Minggu, 03 Maret 2013

TITRASI ASAM – BASA


STANDAR KOMPETENSI : Memahami sifat – sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan terapannya
KOMPETENSI DASAR      : Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dan hasil titrasi asam basa
A. Tujuan
  1. Menentukan konsentrasi HCl dan larutan NaOH
  2. Menentukan kadar asam asetat dalam cuka dapur dengan titrasi asam basa
B. Teori
Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan disertai penambahan indicator. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan tandar, sedangkan indicator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.
Berdasarkan pengertian titrasi, maka titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam dengan zat peniter (titrant) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutan basa dengan zat peniter(titrant) suatu larutan asam, dengan reaksi umum yang terjadi ;
Asam + Basa —> Garam + Air
Reaksi penetralan ini terjadi pada proses titrasi. Titik akhir titrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahan warna dari indicator. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekivalen  titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. Dengan demikian, pada keadaan tersebut (titik ekivalen) berlaku hubungan :
Va.Ma.a = Vb.Mb.b
Va = Volume asam (L)
Ma=Molaritas asam
Vb = Volume basa (L)
Mb = Molaritas basa
a = valensi asam, b = valensi basa
Pada percobaan ini, akan ditentukan konsentrasi HCl dalam Molar dengan menggunakan larutan NaOH dan indikator fenolftalein.
  • Titrasi Asam kuat dengan Basa kuat
Titrasi Larutan HCl 0,1 M oleh larutan NaOH 0,1 M
Reaksi : HCl + NaOH —> NaCl+ H2O
  • Percobaan B  adalah Penentuan kadar asam asetat dalam cuka dapur
Titrasi larutan CH3COOH oleh larutan NaOH 0,1 M
Reaksi : CH3COOH + NaOH —–> CH3COONa + H2O
Reaksi ion bersih : CH3COOH + OH- —–> H2O + CH3COO-
Dalam titrasi ini dipilih indikator PP (fenolftalein). Pemilihan indikator tergantung pada titik setara (ekivalen) dan titik akhir titrasi. Indikator PP mempunyai selang pH = 8,3 – 10,0. Pada kondisi asam (pH < 7), indikator pp tidak memberi perubahan warna, sedang pada kondisi basa (pH>7) indikator PP memberi warna merah muda.
C. Alat dan Bahan
Alat :
  • Labu erlenmayer 125 ml
  • Pipet Volumetrik 10 ml
  • Buret
  • Labu ukur
  • Statif dan Klem
  • Corong Kecil
  • Botol Semprot
  • Pipet tetes
  • Gelas Kimia 100 ml
Bahan :
  • Larutan HCl 0,1 M
  • Larutan asam cuka
  • Larutan  NaOH 0,1 M
  • Indikator PP
D. Cara Kerja
 Percobaan A      :   Titrasi Asam Kuat dan Basa Kuat
  1. Mengambil  10  ml  larutan HCl M dengan pipet volumetrik lalu memindahkannya ke dalam labu erlenmayer 125 ml
  2. Menambahkan  5 tetes indikator PP ke dalam labu erlenmayer
  3. Menyiapkan buret, statif dan klem
  4. Mengisi buret dengan larutan NaOH 0,1 M tepat ke garis nol
  5. Membuka kran buret secara perlahan sehingga NaOH tepat mengalir ke dalam labu erlenmayer
  6. Melakukan titrasi sehingga didapatkan titik akhir titrasi (pink muda). Selama penambahan NaOH kami menggoyangkan labu erlenmayer agar NaOH merata ke seluruh larutan, lalu kami mengamati perubahan warna yang terjadi dan mencatat volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi.
  7. Mengulang langkah 1 dan 6, sampai di dapatkan dua data titrasi
Percobaan B : Titrasi Asam cuka  dengan Basa Kuat
  1. Mengambil 10 ml larutan asam cuka dengan pipet volumetric lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 ml, serta ditambah air hingga tanda batas
  2. Pipet sebanyak 10 ml larutan (campuran asam cuka dan air) ke dalam labu erlenmayer 125 ml dan  menambahkan 5 tetes larutan indicator PP
  3. Melakukan titrasi sampai di dapat titik akhir titrasi. Mencatat volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi
  4. Mengulang langkah 2 dan 3, hingga diperoleh dua data titrasi
E. Hasil Pengamatan
1. Volume titik akhir titrasi asam kuat- basa kuat
No.
Volume HCL
Volume NaOH
1.
10 ml
8 ml
2.
10 ml
8,4 ml
2. Volume titik akhir titrasi asam cuka – basa kuat
No.
Volume asam cuka
Volume NaOH
1.
10 ml
1,2 ml
2.
10 ml
0,9 ml
F. PERTANYAAN
1. Bagaimana perbedaan titrasi A dan B ditinjau dari pH titik ekivalennya?
= Titrasi B lebih cepat mengalami titik ekuivalennya, dengan begitu asam lemah dengan basa kuat lebih cepat mengalami titik ekuivalen disbanding dengan asam kuat dan basa kuat.
2. Hitunglah konsentrasi larutan HCl dengan data percobaan A!
Ma.Va.A = Mb.Vb.B
Ma.10.1 = 0,1.8,2.1
Ma.10 = 0,82
Ma = 0,082 M
3. Hitunglah konsentrasi larutan Cuka dengan data percobaan B!
Ma.Va.A = fp.Mb.Vb.B
Ma.10.1 = 10.1,05.0,1.1
Ma.10 = 1,05
Ma = 0,105 M
4. Mengapa pada setiap titrasi asam basa diperlukan indikator?
= karena indicator dapat mempercepat mencapai titik ekuivalen
5. Buatlah sketsa grafik pH larutan terhadap volum larutan NaOH!
 G. Kesimpulan : Larutan asam cuka-basa kuat lebih cepat mengalami titrasi ketimbang larutan asam kuat-basa kuat. Mungkin, larutan asam cuka-basa kuat tertitrasi lebih cepat karena memiliki ph basa yang lebih tinggi daripada ph asamnya, sedangkan untuk HCl dan NaOH sama-sama kuat yaitu ph=7 
 
kelompok
- reyza pratama
-ready rizki
-sarah aulia
-widya naufalinda
 
kelas
2 ipa 1

Senin, 26 November 2012

Kelompok 5 :

  •         M. Teguh Kurniawan
  •         Nabilah Prabawati ‘Aini
  •          Ready Rizki Aditama
  •          Reyza Pratama Komala
  •          Sarah Aulia Rahmah
Kelas XI IPA 1

PEMBUATAN LARUTAN

A. Tujuan : Menjelaskan pengertian kemolaran, serta cara menyediakan larutan dengan kemolaran tertentu

B. Teori :

Zat kimia umumnya diperdagangkan dalam bentuk padatan (Kristal) atau larutan pekat, jarang sekali dalam bentuk pakai. Sementara itu, di percobaan – percobaan laboratorium seringkali menggunakan larutan encer. 

Oleh karena itu, larutan yang diperlukan harus dibuat dari larutan pekat atau melarutkan zat padat. Membuat larutan dari padatan murni dilakukan dengan mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. Larutan dibuat dengan konsentrasi tertentu, dan dinyatakan dalam konsentrasi Molaritas (M).

M = n / V 
Dimana, M = Molaritas
n = jumlah zat terlarut (mol)
V = Volume Larutan (Liter)

Salah satu keuntungan jika konsentrasi larutan dinyatakan dengan kemolaran, maka menentukan jumlah mol zat terlarut dapat diperoleh dengan mengukur volume larutan.

Ketika bekerja di laboratorium juga diperlukan untuk mengencerkan larutan,yaitu memperkecil konsentrasi larutan dengan jalan menambahkan sejumlah tertentu pelarut. Pengenceran menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut tidaklah berubah. Maka n1 = n2 atau

V1 . M1 = V2 . M2

C. Alat dan Bahan :
  1. Neraca                                        
  2. Kaca Arloji                                  
  3. LAbu Ukur 100 ml dan 50 ml
  4. Pipet Volumetrik 25 ml
  5. Pengaduk
  6. Corong
  7. Bulp
  8. Asam Oksalat C2H2O4
  9. Aquadest

D. Cara Kerja :

  1. Menimbang ± 0.5 gram asam oksalat ke dalam kaca arloji
  2. Lalu masukkan asam oksalat ke dalam labu ukur 100 ml
  3. Larutkan dengan aquadest hingga tanda batas
  4. Kocok larutan sampai homogen
  5. Ukur 25 ml larutan tersebut dan masukkan kedalam labu ukur 50 ml, kemudian tambahkan aquadest hingga tanda batas.
E. Perhitungan :
  1. Hitung Molaritas larutan asam oksalat!
  2. Hitunglah konsentrasi asam oksalat setelah diencerkan!

F. Jawaban



1. M1 = gr  .  1000  =  0,5 .  1000  =  5  = 0,056 M
            Mr     100        90    100       90
2. M1 . V1 = M2 . V2
   0,056 . 25 = M2 . 50
   1,4  =  M2 . 50
   M2 = 1,4 = 0,028 M
            50
           
G. Kesimpulan : Molaritas yang dimiliki oleh larutan pekat (M1) dan larutan terlarut (M2) tidak sama, tetapi memiliki jumlah zat yang tetap yaitu 0,5 gr.

Selasa, 23 Oktober 2012

laporan kimia

  Enthalpy Reaksi Netralisasi

A. Tujuan : Menentukan perubahan entalpi reaksi larutan NaOH dengan larutan HCl dengan  kalorimeter

B. Teori 

  Entalpi merupakan energi  yang  terkandung di dalam zat.Perubahan seluruh energy zat di dalam reaksi disebut dengan perubahan entalpi reaksi.Panas reaksi adalah energi  yang dilepaskan atau diserap bila jumlah mol masing –masing zat sama dengan koefisien reaksinya. Panas pembentukan adalah energi yang dilepaskan /diserap dalam pembentukan 1mol zat dari setiap  unsur –unsurnya. 
rumus   
q= m x c x ∆T
∆ H  =  – q/mol
M = massa (gram)
c  = kalor jenis air (4,2 J/g.oC)
∆T= perubahan suhu (oC)

C. Alat dan bahan

a. Kalorimeter                              f.   Termometer
b. Gelas kimia 100 ml                 g.  Pengaduk
c. Gelas ukur 50 ml
d. Larutan NaOH 1 M
e. Larutan HCl 1 M

D. Cara Kerja

a. Masukkan 50 ml larutan NaOH 1 M ke dalam gelas ukur, ukur suhu larutan
b. Masukkan  ke dalam calorimeter
c. Masukkan 50 ml larutan HCl 1 M ke dalam gelas ukur, ukur  suhu larutan
d. Masukkan  ke dalam calorimeter
e. Aduk campuran larutan. Amati suhunya yang naik, kemudian tetap.  Catat suhu yang tetap sebagai suhu akhir reaksi.  Reaksi    :  NaOH  +  HCl  –>   NaCl + H2O

E. Hasil  Pengamatan

Suhu Awal HCl                : 32°
Suhu Awal NaOH            : 31°
Suhu Campuran              : 35°
Perubahan Suhu              : 35° - (32° - 31°/2) = 35° - 32,5° = 2,5°

F. PERTANYAAN

1.Hitunglah jumlah mol dalam 50 ml larutan HCl 1 M dan jumlah mol dalam 50 ml larutan NaOH 1 M!
2.Hitunglah jumlah kalor yang dibebaskan per mol H2O yang terbentuk dalam reaksi ini
3. Tulislah persamaan termokimia untuk reaksi tersebut!
G. JAWABAN
1. mol NaOH       = m . v
                          =  1 . 0,05
                          =  0,05 mol
   mol HCl            = m . v
                          =  1 . 0,05
                          = 0,05 mol
2. dik : m NaOH   = 50 ml
          m HCl       = 50 ml
          c              = 4,2 J /g°C
          ΔT           = 2,5°C
   dit : q ?             
   q reaksi         = m . c . ΔT
                       =  100 . 4,2 . 2,5
                       =  1050 J
3. ΔH =  -q/mol
           = -1050/0,05
           = - 21000 J/mol
           = - 21 KJ/mol
H. KESIMPULAN   :  Jadi, untuk menetralisasikan 1 mol larutan NaOH dengan 1 mol HCl dibutuhkan kalor sebesar  1050 J serta adalanya perubahan enthalpy sebesar -21 KJ/mol. Ini termasuk kedalam proses Eksoterm yaitu jenis reaksi ΔH pelarutan standar (ΔH°s)


entalpi pembakaran bahan bakar
A. Tujuan                  :  Menentukan ∆H pembakaran methanol
B. Alat dan Bahan 
  • Gelas Kimia
  • Pembakar spirtus
  • Neraca
  • Metanol
  • Air
  • Termometer

C. Langkah Kerja
  1. Timbang air dalam gelas kimia sebanyak 100 ml
  2. Ukur suhu air awal dan catat suhunya
  3. Isi pembakar spirtus dengan methanol, timbang pembakar tersebut dengan neraca
  4. Nyalakan pembakar spirtus dan panaskan air sampai hampir mendidih
  5. Catat suhu air,pada saat lampu spirtus dimatikan
  6. Timbang pembakar spirtus setelah pemanasan

D. Hasil pengamatan
Massa air             : 100 gr
Massa benda (spirtus)  + bahan bakar sebelum pemanasan  : 181,6 gr
Massa benda (spirtus ) + bahan bakar setelah pemanasan    : 164,72 gr
Suhu air awal     : 30°
Suhu air setelah pemanasan       : 93°
Massa methanol yang hilang       : 181,6 – 164,72 = 5,88 gr
Mr methanol (CH3OH)   : 12 + 4 + 16 = 32
E. Perhitungan
  q  reaksi          = m . c . ∆T
  ∆ H                 =  – q/mol methanol

G. Jawab

1. mol methanol  =  gr/mol = 5,88/32 = 0,184 mol

2. q reaksi     =  m . c . ΔT
                     =  100 . 4,2 . 63
                     =  26460 J
     3. ΔH        = -26460/0,184
                    = -143804,34 J/mol
                    = -143,8 KJ/mol

H. Kesimpulan :  Jadi, total kalor yang terjadi adalah 26460 J dan kalor tersebut juga mengalami perubahan sebesar -143,8 KJ/mol. dalam percobaan tersebut tergolong sifat eksoterm.

Rabu, 28 September 2011

oh my school!

berbicara tentang sekolah impian, pasti ini yang paling menggejolak dihati kalian semua. karena, menurut sebagian temanku sekolah itu harusnya yang baik supaya kita dapat belajar dengan baik.

kalian tau film bbf? itu loh boys before flowers. filmnya bagus dan apalagi sekolahnya, bagus banget deh.

perjalananku sehari-hari menimba ilmu

setiap hari aku selalu bangun pagi jam 05:00 loh? yap, apalagi kalo bukan untuk sekolah. kecuali ya dihari minggu. aku pergi kesekolah dengan sepeda motor yang setiap hari setia menemani aku untuk pergi kesekolah. oh iya, rumahku di tridaya jadi kalau untuk perjanan menuju kesekolah tidak terlalu lama. paling hanya memakan waktu kurang lebihh ya 15 menit lah. setelah sampai disekolah yang pasti aku belajarlah, perjalananku kesekolah tidak terlalu istimewa, karena aku selalu melewati jalanan yang tidak melewati persawahan hehe.

university in my mind :)

impianku sih adalah ITB kalau nggak ya ITS lah, karena aku ingin mengejar jurusan desain grafis dan farmasi loh. kalian berkeinginan sama dengan aku ini loh universitasnya, inilah yang paling aku ingin-inginkan ITB

gimana? liat kampusnya aja udah bikin kita termotivasi kan?
ya iyalah gimana enggak? itb kan udah jadi the top university on indonesia.
jadi selain keren nih kampusnya. ya berarti ini udah bener-bener jadi topnya universitas indonesia.

HOBI....HOBI....DAN HOBI....!!

aku suka sekali dengan menggambar, entah mengapa dari kecil aku suka sekali menggambar loh? kalau ditanya tentang hobi ya aku pasti bilang menggambar. karena menurutku menggambar itu sangat mengasyikan.

pokoknya kalau ada waktu senggang pasti aku sempatkan untuk hal yang satu ini, terkadang aku suka aneh sendiri loh? padahal aku sudah punya alat-alat untuk menggambar,tetapi malah aku beli lagi haha.

yang pasti menurutku gambar itu mengasyikkan deh, kalau kalian coba boleh saja kok. karena mmenurutku orang yang menggambar bisa menghilangkan sebagian dari kepenatan atau kestressannya.